Rabu, 13 November 2013
Get Personalized Here!
| Sign In
- Ekonomi
- Bola
- Tekno
- Entertainment
- Otomotif
- Health
- Female
- Travel
- Properti
- Foto
- Video
- Forum
- Kompasiana
Get Personalized Here!
Get Personalized Here!
Kepala Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan membenarkan Vika saat ini tengah menjalani pemeriksaan di Sub Unit II Jatanras Polda Metro Jaya. Vika datang ke Mapolda Metro Jaya sekitar pukul 10.00.
"Iya, (Vika) sedang diperiksa di Jatanras," ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (1/11/2013) siang.
Vika diperiksa untuk dimintai keterangannya terkait perusakan rumahnya yang dilakukan wanita berinisial F. Saat peristiwa itu terjadi, diketahui Vika sedang berada di luar kota.
Rumah Vika di Jalan Pulomas Barat VII, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, disatroni F pada Sabtu (26/10/2013) dini hari. Pagar rumah yang terbuat dari kayu ditabrak, tiga mobil yang terparkir di garasi ditabrak mobil Mercy B 712 NDR.
Saat itu, rumah Vika hanya ada penjaga keamanan dan pembantu rumah tangga. Vika diketahui tengah berada di Bali. Dia mengetahui kejadian tersebut dari tetangga yang menghubunginya.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
"SMP itu ada 617 anak didik. Kalau yang melakukan ada 10 orang, jangan sampai mengganggu keberadaan anak lain yang punya prestasi," ujar Taufik di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (28/10/2013).
Taufik menjelaskan, dari 617 siswa SMPN 4, beberapa orang memiliki prestasi yang membanggakan, seperti juara olimpiade nasional, wilayah, juara Paskibra, kesenian, dan olahraga.
"Mari memikirkan 600 anak lain yang masih panjang kepercayaan diri, intelektualitas, dan moralitas mereka," tuturnya.
Taufik memaparkan, siswa pelaku adegan dalam video tersebut sudah mendapatkan sanksi yang cukup berat dari publik. Namun, bukan berarti hal itu mematikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. "Anak yang jadi pelakunya sudah terpukul dengan keadaan seperti ini. Jadi, kalau tindakan sudah diambil, hukuman sosial ini juga dipertimbangkan bisa ditindaklanjuti. Caranya dengan memberikan anak ini pendidikan lanjut di sekolah lain," ujarnya.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
"Akhir pekan ini tingkat hunian hotel sampai 90 persen. Artinya hotel-hotel, paling banyak itu di Jalan Sudirman-Thamrin, penuh semua," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budiman, ke wartawan, Minggu pagi.
Naiknya jumlah hunian tersebut, kata Arie, karena kehadiran peserta Jakarta Marathon, baik dari luar negeri maupun dari luar Jakarta yang menginap untuk mengikuti lomba lari bertaraf internasional tersebut.
Untuk acara Jakarta Marathon itu sendiri, Arie mengungkapkan, sejauh ini tidak menemui kendala berarti. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah soal jalur maraton, baik di nomor terendah 1 kilometer, nomor menengah 21 kilometer serta full marathon 42 kilometer. Menurut Arie, jalur yang telah mendapatakan sertifikat Grade A tersebut dapat digunakan sebagai jalur maraton hingga 5 tahun mendatang.
"Tapi masih menunggu evaluasi. Termasuk track clear, enggak ada orang lain yang berada di jalur maraton selain si pelari, itu jadi penilaian juga. Mudah-mudahan lancar evaluasinya," lanjut Arie.
Acara Jakarta Marathon merupakan kerja bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Acara bertaraf internasional itu diikuti pelari sebanyak 5.500 orang, yang berasal dari luar dan dalam negeri.
Kegiatan Jakarta Marathon 2013 terdiri dari beberapa kategori, yakni lima kilometer, 10 kilometer, half marathon (21 kilometer) dan full marathon (42 kilometer) serta maratoonz yang khusus untuk anak-anak.
Pemenang full marathon putra adalah William Chebor dari Kenya dengan waktu tempuh 2:14:30. Posisi kedua ditempati Stephen Tum, juga dari Kenya dengan catatan waktu 2:15:35. Posisi ketiga diraih Chelimo Kipkemoi, juga dari Kenya, dengan catatan waktu 2:17:06.
Adapun emenang full marathon putri yaitu Mulu Seyfu dari Ethiopia dengan catatan waktu 2:42:57. Posisi kedua ditempati Diana Sigei dari Kenya dengan catatan waktu 2:43:39. Dan, tempat ketiga diraih Mercy Jelimo Foo dari Kenya dengan catatan waktu 2:44:18.
Editor : Egidius Patnistik
Ratusan pelajar yang merupakan anak dari warga sekitar menutut ilmu di sekolah berukuran kecil tersebut. Bagian dalam ruangan nampak sederhana. Batu bata dari tembok ruangan nampak mencolok karena tidak dilapisi cat atau pun diplester.
Lantai ruangan kelas juga tak beralaskan kramik, hanya lantai yang dicor biasa. Hanya tembok depan dan sisi kiri bangunan yang dicat berwarna hijau. Namun suara riuh para pelajar bisa terngar jelas.
Di atas meja, terlihat buku dan alat tulis lengkap yang dibawa para pelajar tersebut. Mereka tampak ceria mengikuti kegiatan belajar mengajar, kendati di sekelilingnya, para pekerja dan Satpol PP tengah menumbuk tembok-tembok rumah warga yang hendak dirubuhkan.
Sekolah ini dibangun bagi warga tak mampu dengan biaya SPP yang terjangkau. Namun, keberadaannya menjadi terancam di tengah pembongkaran terhadap pemukiman warga terkait program normalisasi Waduk Ria Rio oleh Pemprov DKI Jakarta. Pelajar dan guru di sana pun resah. Mereka takut kalau saja bangunan sekolah tersebut termasuk yang ikut dibongkar.
"Orangtua pada resah, termasuk saya juga resah. Gimana keputusannya, anak-anak kalau pindah sekarang enggak mungkin akan diterima di sekolah lain," kata Elizar, guru yang merangkap kepala sekolah swasta tersebut, kepada Kompas.com, Sabtu (26/10/2013).
Elizar mengatakan, ada 101 pelajar yang masih bersekolah di sana. 19 pelajar lain sudah ikut pindah sejak relokasi di lakukan terhadap sebagian warga Ria Rio pada September lalu. SD tersebut melayani jenjang pendidikan dari mulai tingkat taman kanak-kanak hingga kelas V SD. Dua ruangan itu dipakai para pelajar dengan tiga waktu KBM, secara bergantian.
"Mulai jam 7 sampai jam 3 sore dibagi tiga kelas bergantian. Di sini sekolah buat orangtua yang anaknya tidak mampu," ujar Elizar.
Per bulan, lanjutnya, SPP yang dibayarkan di sana Rp 20.000. Ada tiga orang guru yang mengajar di sana, termasuk dirinya. Para pelajarnya merupakan anak dari warga sekitar di pemukiman Ria Rio. Jenjang pendidikannya hanya sampai kelas V SD.
"Karena di sini belum bisa ada ijazah. Kalau ngejar paket tunggunya lama, jadi anak-anak kalau sudah sampai kelas V itu pindah ke sekolah lain," katanya.
"Tadinya habis kebakaran dipersilahkan dibangun. Ternyata setelah habis kebakaran, baru juga jadi (selesai dibangun) begitu, eh (ada yang) dibongkar," ujarnya.
Menanti nasib
Pihaknya menanti keputusan selanjutnya. Dia berharap agar anak-anak tidak menjadi terlantar bila memang bangunan sekolah tersebut termasuk yang akan dibongkar. Dia pun mengaku tidak mengetahui apakah bangunan tersebut termasuk yang akan dibongkar nantinya.
"Pihak Pulomas-nya belum jawab," ujar Elizar.
Banyak warga sekitar yang menyekolah anaknya di sana. Salah satunya, Wahyu Tri (50), warga RT 06 yang kini telah tinggal di Rusun Pinus Elok. Sejak TK, putri semata wayangnya, Anggi (13), pernah menempuh pendidikan di SD Al-Istiqomah. Anggi kini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) 119, Jakarta Timur.
"Dulu anak saya sekolah di sini. Sangat terbantu SPP nya murah," kata warga yang telah menempati Ria Rio sejak tahun 1988 itu.
Dia berharap, ada perhatian agar tidak dilakukan penertiban terhadap bangunan sekolah tersebut. Pasalnya, masih banyak pelajar bergantung terhadap SD tersebut.
"Harus tanggung jawab ini gimana buat anak-anak. Di sini juga masih ada sisa. Yang penting anak-anak diurusin. Anak sekolah kan penerus perjuangan dan penerus bangsa. Di sini banyak yang enggak mampu, Mas," ujarnya.
Editor : Caroline Damanik
"Sama seperti anak-anak. Kalau nakal diipelototin, masih ngotot dicubit sedikit, dan kalau masih ngotot juga, dipukul rotan sedikit," kata Basuki di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (25/10/2013).
Menurut Basuki, yang terpenting dari denda tersebut bukan uangnya, melainkan dapat memberi efek jera agar pengendara tidak lagi menerobos jalur bus transjakarta itu. Sebab, target utama penerapan aturan itu untuk membatasi pelanggaran lalu lintas di jalan raya.
Selain akan menerapkan aturan tersebut, Pemprov DKI bersama Polda Metro Jaya juga akan mencoba menegakkan peraturan dengan memblokir STNK. Peraturan itu akan diterapkan secara bertahap.
Senada dengan Basuki, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono juga mendukung rencana Polda tersebut. Menurut Pristono, denda saat ini yang berkisar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 masih murah sehingga kurang menimbulkan efek jera bagi pelanggar lalu lintas.
Oleh karena itu, dia setuju apabila nilai dendanya ditingkatkan kembali. Sesuai Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, masih memungkinkan menerapkan denda lebih tinggi lagi. Kendati demikian, polisi tetap harus mengajukan usulan tersebut pada kejaksaan.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana pembongkaran bangunan di Taman Burung Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, berjalan tertib. Warga tidak melakukan perlawanan dan bahkan sudah meninggalkan lokasi di Taman Burung Waduk Pluit sejak kemarin pagi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, warga sudah memindahkan barang dan melihat unit rumah susun yang akan mereka tempati di Pinus Elok, Cakung, Jakarta Timur. Kepala Koordinator Normalisasi Waduk Pluit Heryanto mengatakan, hari ini delapan bangunan yang dibongkar menggunakan alat berat. Sebelumnya, ada 105 bangunan yang ditinggali 113 kepala keluarga di atas lahan seluas tiga hektar di Taman Burung. Sebanyak 75 bangunan di antaranya dibongkar oleh warga sendiri.
Pantauan Kompas.com, Kamis (24/10/2013), ada satu bangunan yang belum dibongkar oleh warga di Taman Burung Waduk Pluit. Menurut Paijah (48), salah satu warga di Taman Burung, bangunan tersebut belum dibongkar karena pemiliknya belum sepakat pindah. Meski demikian, kata Heryanto, pembongkaran tetap dilakukan dan warga diberi kesempatan tinggal di Rusun Pinus Elok sesuai dengan janji Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Tidak semua warga di Taman Burung mendapatkan unit rusun di Pinus Elok dengan tarif Rp 170.000 per bulan. Warga yang berstatus mengontrak di Taman Burung tidak mendapatkan unit rusun.
"Sampai saat ini sudah sebanyak 70 kepala keluarga (KK) yang sudah pindah ke Rusun Pinus Elok," ujar Heryanto saat ditemui Kompas.com di lokasi pembongkaran, Kamis.
Pembongkaran bangunan liar di Taman Burung itu dimulai sejak pukul 09.00 dengan menggunakan tiga ekskavator. Sementara itu, 600 petugas gabungan pengamanan dari Satpol PP, TNI, dan Polri berjaga-jaga di atas lahan seluas 3 hektar tersebut. Kepala Satpol PP DKI Jakarta Kukuh Hadi Santoso juga turut mengawasi penertiban bangunan itu.
Seminggu sebelum penertiban hari ini, Pemprov DKI Jakarta telah memberikan surat pembongkaran kepada 113 kepala keluarga yang tinggal di Taman Burung. Pemprov DKI memberikan waktu sepekan kepada warga untuk membongkar bangunannya terhitung sejak Kamis (17/10/2013) hingga pada hari ini.
Editor : Laksono Hari Wiwoho
Ketua Rukun Warga 1, Kelurahan Cideng, Kecamatan Gambir, Dadang Suherman mengatakan, adanya sosialiasi pembongkaran kepada masyarakat sejak 10 Oktober 2013. Ia menuturkan, para pemilik bangunan telah menyadari bangunan menyalahi aturan.
"Mereka membongkar sendiri karena mereka sadar kalau mereka salah," ujar Dadang, saat ditemui di Jalan Citarum, Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2013).
Ia mengungkapkan, terdapat 131 bangunan yang warganya termasuk dalam pembongkaran tersebut. Di RW 01 RT 17 ada 50 rumah, sedangkan RW 18 ada 75 bangunan rumah dan ada enam warung kecil. Menurut Dadang, umumnya pemilik bangunan tersebut sebatas menyewa.
Pembongkaran bangunan itu telah dilakukan sejak 21 Oktober 2013. Saat ini, pembongkaran tinggal 20 persen, yakni membersihkan puing-puing bangunan.
Hal senada juga diungkapkan Siti Maesaroh, Ketua RT 18 Kelurahan Cideng. Dia mengatakan sudah menyosialisasikan terkait pembongkaran tersebut. Kata Maesaroh, warga yang tinggal sudah mengakui kesalahan atas bangunan selama ini menjadi tempat usaha mereka.
"Dari awal sosialisasi dan mereka mengaku salah. Mereka tahu kalau Dinas Pekerjaan Umum punya hak untuk membersihkan kali Citarum," kata Maesaroh.
Surat peringatan pertama sudah diterima warga sejak 10 Oktober. Sejak menerima surat itu, mereka mulai inisiatif melakukan pembongkaran.
"Baru hari ini ada berat, dari kemaren membongkar sendiri dengan manual," pungkasnya.
Pantauan Kompas.com, satu alat berat dijalankan untuk membongkar bangunan di atas saluran kali Citarum. Beberapa warga masih membongkar dengan menggunakan cangkul untuk merobohkan tembok. Beberapa satuan pamong praja masih terlihat berjaga di area Kali Citarum.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com - Gatot Supiartono, tersangka pembunuhan Holly Angela Ayu, melalui pengacaranya, Afrian Bondjol, mengatakan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan melayangkan surat penangguhan penahanan.
"Itu (surat penangguhan penahanan) akan kita kirim secepatnya, sekarang belum kita kirimkan," kata Afrian di Mapolda Metro Jaya, Selasa (22/10/2013).
Siang tadi, sekitar pukul pukul 11.00, Afrian datang ke rumah tahanan Polda Metro Jaya untuk melihat kondisi kliennya. Afrian mengatakan sejak ditahan, pegawai auditor utama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu lebih banyak berdiam.
"Pak Gatot dia biasa ya, sedikit proses adaptasi di dalam. Tadi dia nanya gimana langkah hukum selanjutnya," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Afrian juga membantah kabar yang menyebutkan bahwa kliennya menolak untuk dilakukan pemeriksaan berita acara pemeriksaan (BAP). Ia menyebutkan sejak berstatus sebagai saksi, sampai akhirnya menjadi tersangka, Gatot selalu menghormati proses hukum tersebut.
"Kalau ada panggilan ya kita hormati panggilan. Kan dia ditahan, mau ke mana lagi," terangnya.
Gatot ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan pembunuhan Holly pada Rabu (16/10/2013). Dari penyidikan yang dilakukan polisi dan keterangan sejumlah saksi pelaku, otak pembunuhan mengarah kepada Gatot, pria yang menikahi siri Holly sejak 2011 di Bandung.
Dugaan Gatot kesal dengan sikap Holly yang kerap menuntut macam-macam dari mulai meminta dibelikan mobil, rumah sampai mendesak agar Gatot menyeraikan istri pertamanya.
Holly ditemukan tewas pada Senin (30/9/2013) jelang tengah malam, di apartemennya, di lantai 9 Ebony Tower, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Ketika ditemukan, tangan Holly dalam keadaan terikat dan sudah bersimpah darah. Holly tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.
Selain Gatot, dua orang pelaku lainnya yakni S dan AL sudah berhasil ditangkap polisi di Karawang dan Bojong Gede, Depok. Dua orang lainnya yakni R dan P masih dalam pengejaran polisi, sementara itu seorang lainnya yakni EL tewas terjatuh dari lantai sembilan setelah mencoba untik melarikan diri.
Editor : Eko Hendrawan Sofyan
"(Kewenangannya) di dewan pengupahan dong, di survei-survei yang mereka lakukanlah. Saya tidak punya kewenangan apa-apa," ujar Jokowi di kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Senin (21/10/2013).
Jokowi menilai, tuntutan para buruh pada dasarnya disebabkan oleh tidak adanya komunikasi yang baik antara pengusaha dengan pekerja. Jika komunikasi antara keduanya lancar, dia yakin tak ada masalah.
"Percuma UMP (Upah Minimum Provinsi) tinggi, tapi komunikasinya enggak baik," cetus Jokowi.
Jokowi melanjutkan, komunikasi yang dimaksud adalah bagaimana manajemen suatu perusahaan memberikan informasi kondisi perusahaannya ke para pekerja. Misalnya, soal kerugian ataupun keuntungan. Dengan komunikasi itu, Jokowi pun berharap jalan keluar bisa dicari bersama-sama.
"Harus saling mengisi. Jangan sampai kejadian yang lalu-lalu diulang-ulang terus. Saya kira inti masalah ada di komunikasinya," ujarnya.
Sebelumnya, para buruh menuntut Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk memperbaiki kualitas hitungan item Komponen Hidup Layak (KHL). Diketahui, berdasarkan KHL Dewan Pengupahan tahun 2012 lalu, UMP DKI ditetapkan Rp 2,2 juta. Namun, buruh tetap menolak. Mereka menuntut UMP Rp 3,7 juta.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Kepala Unit Reserse Kriminal Mapolsek Kebayoran Lama, Inspektur Satu Alfred mengungkapkan, korban yang merupakan warga Tegal, Jawa Tengah tersebut tewas dengan luka tusuk senjata tajam di bagian dada kirinya.
"Barang bukti yang kita temukan, pisau lipat warna silver, uang berserakan dan dua buah ponsel. Satu milik korban, satu milik toko," ujar Alfred melalui pesan singkatnya kepada Kompas.com pada Minggu.
Alfred belum mengetahui kronologis kejadian itu. Namun, dari olah tempat kejadian perkara yang pertama, diduga kuat korban dibunuh lantaran melawan perampok yang menyatroni toko itu.
Kini, jenazah pria malang tersebut telah dibawa ke RS Fatmawati. Polisi pun tengah memeriksa dua orang saksi yang berada dekat dengan TKP saat kejadian berlangsung, yakni Subur dan Nur Salin. Keduanya adalah teman sehari-hari korban.
Soal apakah ada barang yang hilang, Alfred berjanji akan memberitahukannya jika ada perkembangan. Kasus tersebut ditangani Unit Reserse Kriminal Polsek Kebayoran Lama.
Editor : Erlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menghadiri pembukaan Festival Taman di Taman Cattleya, Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu (19/10/2013) siang. Jokowi sempat ditawari untuk mengalungkan ular sanca, tetapi ia menolak.
Dalam acara yang diselenggarakan oleh komunitas pencinta taman itu, Jokowi mengelilingi taman dan menyempatkan diri mengunjungi stan pencinta reptil jenis ular. Penjaga stan ular tersebut menawarkan kepada Jokowi untuk mengalungkan ular sanca sepanjang sekitar dua meter. Jokowi menolaknya dan menyodorkan ular berdiameter 5 sentimeter kepada wartawan.
"Coba saja kamu sendiri yang pegang, saya ndak ah. Coba kamu saja yang pegang, berani ndak," ujar Jokowi. Ia lebih suka memegang boneka ular sanca yang diletakkan di stan tersebut.
Jokowi kemudian melanjutkan berkeliling stan, termasuk mengunjungi stan Sedekah Harian. Sedekah Harian merupakan aksi masyarakat untuk menyisihkan uang setiap hari untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan. Di stan itu, Jokowi memberikan lembaran uang Rp 100.000, yang dibalut dengan uang Rp 1.000, dan memasukkannya dalam celengan berbentuk kaleng kerupuk.
Festival taman ini merupakan festival pertama yang digelar di taman di Jakarta. Festival tersebut digelar secara swadaya oleh warga, mulai dari berbagai komunitas hingga mahasiswa dan para pelajar. Turut hadir dalam acara tersebut, pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, dan sejarawan Universitas Indonesia, JJ Rizal.
Di sela-sela acara, Jokowi sempat meninjau taman milik Pemprov Jakarta dengan luas 4 hektar tersebut. Jokowi berjalan di paving block taman sambil berbincang dengan Nirwono terkait taman sekaligus perkembangannya di Jakarta.
Editor : Laksono Hari Wiwoho
Warga yang masih bertahan di sisi selatan sudah mendapatkan surat pembongkaran pada Kamis (17/10/2013). Mereka diberi waktu seminggu untuk membongkar sendiri bangunan liar yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini.
"Ya bagaimana disuruh pindah. Saya tidak mau buru-buru, masih seminggu kok. Sekarang barang-barangnya dulu dikeluarin dari rumah," ujar Sukamti (61), warga Taman Burung di rumahnya, Jumat (18/10/2013).
Selain banyak yang membawa barang-barang mereka dari dalam rumah, sebagian warga tengah mencopot-copoti pintu, kusen jendela dan saklar listrik. Mereka mengaku sudah siap untuk dipindahkan.
Tidak hanya bangunan, petugas juga menebang sebagian pohon yang berada di sekitar Taman Burung. Taman Burung ini menjadi bagian dalam normalisasi Waduk Pluit.
"Ya, maulah dipindahkan, orang ini tidak ada sertifikat rumah. Nanti kan, kalau pindah kita sudah resmi, tidak akan dipindah-pindahkan lagi," kata Jamal (53), salah satu warga.
Sebanyak 40 kepala keluarga yang telah membongkar bangunannya sendiri sejak kemarin, dipindahkan ke Rumah Susun Pinus Elok, Jakarta Timur. Di Rusun itu, warga sudah disediakan fasilitas seperti televisi, kulkas, lemari dan kasur. Nantinya, seluruh warga yang berada di Taman Burung akan direlokasi ke Rusun Pinus Elok.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Sekretaris Jenderal BPK Hendar Ristriawan menyatakan, hal itu mengacu perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian dan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1966. "Jadi tindakan yang harus diambil berdasarkan peraturan yang berlaku yaitu pemberhentian sementara dari jabatan negeri," kata Hendar di Gedung BPK RI, Kamis (17/10/2013).
Menurut Hendar, dengan diberhentikan sementara, ketika Gatot dinyatakan tidak bersalah di pengadilan, maka namanya dapat dipulihkan kembali. Hendar menyatakan, sampai sejauh ini BPK baru mengetahui tentang status tersangka dan penahanan terhadap Gatot dari pemberitaan di media.
"Secara resmi kami belum menerima pemberitahuan dari kepolisian tentang status Pak Gatot dan penahanannya," ungkapnya.
Polda Metro Jaya mulai menetapkan Gatot sebagai tersangka pada Rabu (16/10/2013) sekitar pukul 20.00 WIB. Sebelumnya, Gatot diperiksa dengan 83 pertanyaan dan diperiksa hampir 12 jam sejak pukul 08.30 WIB.
Gatot dijerat Pasal 340 dan 338 jo 335 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau mati. Gatot disangka memerintahkan pembunuhan terhadap Holly pada 30 September 2013. Dua orang pelaku yang diduga suruhan Gatot telah ditangkap, yakni SH atau S dan L. Dua pelaku lain, yakni R dan PG, masih buron. Adapun seorang pelaku lain, yakni El Rizki, tewas setelah jatuh dari kamar Holly di lantai 9 Menara Ebony Apartemen Kalibata City.
Editor : Laksono Hari Wiwoho
Selama ini, staf kelurahan dan warga mengenal sosok Fanda yang ramah dan dekat dengan siapa pun. Dia tidak sungkan untuk mengobrol dengan stafnya, walau mereka cuma pekerja lepasan.
Isma Tohir, ketua RW 05 Kelurahan Ceger mengenal Fanda sebagai sosok lurah yang dekat dengan warga. Bahkan, dia dikenal tak segan turun ke lapangan saat kerja bakti digelar setiap bulan di Kelurahan Ceger.
"Makanya pas denger kabar Pak Lurah ditangkap, warga kaget," kata Tohir ditemui Warta Kota di kediamannya, Selasa (15/10/2013).
Menurut Tohir, sebelum menjabat sebagai Lurah Ceger, Fanda menjabat sebagai Wakil Lurah Cipayung.
Tohir mengaku sempat dipanggil Kejaksaan Negeri Jakarta Timur pada Senin (14/10/2013) lalu. Dia dimintai keterangan oleh penyidik dari kejaksaan.
"Saya memang sempat dipanggil Kejaksaan Negeri Jakarta Timur untuk diperiksa. Saya sempat kaget dan enggak tahu kasusnya apa. Saya ditanya soal uang operasional RW, apakah diberikan lurah sesuai dengan yang dianggarkan. Ya.. saya jawab sejujurnya, memang selalu diberikan sesuai dengan ketentuan," kata Tohir.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Di daerah yang warganya disebut-sebut menolak lurahnya itu, Jokowi mendapat sambutan sangat meriah. Pantauan Kompas.com, Jokowi dan rombongan datang sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan mengenakan kemeja putih khasnya, Jokowi menelusuri gang-gang yang berjarak sekitar satu kilometer dari kantor Kelurahan Lenteng Agung tersebut.
Kehadiran Jokowi langsung disambut meriah oleh warga setempat. Warga, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak, berebut salam dan berfoto bersama. "Lah, Pak Jokowi datang ke kampung kita," ujar salah seorang ibu sambil menggapai tangan Jokowi.
Semakin lama, warga yang datang kian banyak dan memenuhi jalan selebar dua meter tersebut. "Ini mah gubernur masuk kampung," timpal warga lainnya.
Sesampainya di lapangan, Jokowi pun meninjau persiapan pemotongan sapi dan kambing. Setidaknya, terdapat satu ekor sapi dan lima ekor kambing yang akan dipotong di lapangan tersebut. Di sela blusukan-nya, Jokowi mengaku tak memiliki maksud khusus atas kedatangannya tersebut.
"Saya ke sini karena sahur pertama kali ke sini pas kampanye, makanya ke sini lagi. Saya juga naruh satu sapi di sini," ujar Jokowi tanpa menyinggung soal penolakan warga atas lurahnya itu.
Beranjak dari situ, Jokowi juga melakukan blusukan ke gang-gang kecil di RW tersebut. Di sela-sela itu, Jokowi menyempatkan diri berbincang dengan warga. Tampak salah seorang tokoh masyarakat setempat yang sebelumnya menolak lurahnya berada di samping Jokowi.
Dalam kunjungannya ke kelurahan tersebut, tak tampak Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli. Tak tampak pula pejabat kecamatan atau kelurahan di lokasi tersebut. Jokowi hanya ditemani ajudan serta staf Pemprov DKI Jakarta.
Editor : Kistyarini
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus salah tangkap yang dilakukan petugas Reserse Polsek Tanjung Duren terus menjadi polemik. Tak mau berkembang terlalu jauh, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto memberikan klarifikasinya.
Rikwanto mengatakan, saat penyergapan, polisi sudah menunjukkan identitasnya. Tetapi kala itu korban salah tangkap, Robin Napitupulu (25), justru terlihat panik dan langsung tancap gas mobil Toyota Rush bernomor polisi B 1946 KOR miliknya.
"Polisi ketuk kaca jendelanya dan memberitahu dia dari kepolisian, setelah itu pengemudi langsung lari," terangnya, di Mapolda Metro Jaya, Senin (14/10/2013).
Setelah korban melarikan diri karena panik, polisi langsung melesatkan tembakan ke atas dan ke arah mobil yang dikendarai Robin. Tidak hanya itu, polisi juga meneriaki Robin dengan sebutan maling. Alhasil, warga sekitar yang mendengar teriakan itu langsung mengejar dan menghakimi Robin. Setelah diintrogasi, ternyata Robin bukanlah orang yang dicari-cari oleh polisi.
"Setelah diintrogasi, ternyata bukan dia (Robin). Dia mendapatkan luka akibat hakiman massa," kata Rikwanto.
Saat ini, dua polisi tersebut tengah menjalani pemeriksaan oleh Propam. Jika terbukti bersalah, polisi tersebut akan mendapatkan sanksi disiplin atau sanksi kode etik.
Peristiwa penembakan mobil Toyota Rush B 1946 KOR milik Robin di Jalan Taman Cemara, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (12/10/2013) malam, dibenarkan Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Tanjung Duren, Ajun Komisaris Khoiri.
Menurutnya, polisi mengira mobil tersebut adalah milik seorang gembong pencuri kendaraan bermotor.
Khoiri menuturkan, kejadian salah sasaran itu bermula Sabtu sekitar pukul 19.00. Ada warga Tanjung Duren yang melaporkan telah kehilangan Mobil Suzuki Gran Max. Berdasarkan penyelidikan awal, petugas menyasar salah seorang pelaku telah berada di Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Petugas pun dikerahkan ke sana. Petugas kepolisian pun disebar menyisir wilayah Koja, Jakarta Utara. Berdasarkan laporan masyarakat, ada sebuah mobil dengan ciri-ciri yang sama tengah terparkir di Jalan Taman Cemara Koja. Ia pun menginstruksikan petugasnya mengarah ke tempat kejadian perkara yang dilaporkan warga.
"Pas petugas kita lihat, memang mobil itu mirip dengan mobil pelaku. Langsung kita sergap. Tapi itu bukan salah tembak loh ya. Memang peristiwa itu ada ada benarnya juga," ujarnya.
Setelah dipastikan, rupanya pihaknya salah sasaran. Mobil malang tersebut diketahui milik warga Bekasi bernama Robin Napitupulu (25). Pihaknya pun mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun, dengan tegas Khoiri mengatakan bahwa operasinya sesuai prosedur. Robin saat ini dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara.
Meski tak tertembus peluru, dia cukup trauma dengan luka sobek di tempurung kepala dan pelipis sebanyak 20 jahitan. Tidak hanya itu, lengan tangan kanan dan pinggangnya memar akibat terkena serpihan peluru, jari telunjuk kanan pun mengalami retak.
Editor : Eko Hendrawan Sofyan
"Seseorang berinisial G ini kami panggil dan surat panggilan kami layangkan hari ini. Dalam surat panggilan G kami minta datang Jumat minggu depan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, Jumat (11/10/2013).
Rikwanto menjelaskan surat panggilan dilayangkan ke rumah Gatot di kawasan Jakarta Timur. Polisi akan mendengarkan keterangan Gatot, untuk dibandingkan dengan keterangan dua pelaku lainnya yang sudah ditangkap, yakni S dan L.
Menurut Rikwanto, nama Gatot muncul setelah ia memeriksa S dan L. Gatot memiliki hubungan dengan S, pimpinan kelompok eksekutor bayaran yang menghabisi Holly. S diketahui sebagai sopir Gatot.
"Selain itu dari foto-foto di kamar korban, juga ada foto G dengan Holly. Foto itu akan dikonfirmasikan ke G dalam pemeriksaan nanti," katanya.
Rikwanto menegaskan, untuk sementara ini Gatot dipanggil sebagai saksi. Namun, polisi juga telah melayangkan surat pencekalan terhadap Gatot Supiartono ke Dirjen Imigrasi.
"Bersamaan dengan surat panggilan yang kita layangkan kepada saudara G, kami juga layangkan surat permintan ke Dirjen Imigrasi untuk mencekal G," katanya.
Menurut Rikwanto, hal itu dimaksudkan untuk mencegah Gatot lari keluar negeri dalam kaitannya sebagai saksi kasus pembunuhan Holly.
Editor : Ana Shofiana Syatiri
JAKARTA, KOMPAS.com - RK (23), mahasiswa yang menyiramkan air keras ke teman wanitanya, AL (21), mengaku pernah diancam oleh kakak kandung korban. RK mengaku akan dibunuh jika masih berhubungan dengan korban.
"RK pernah cerita, kakaknya Lyn (AL) yang cowok pernah ancam mau bunuh RK kalau masih berhubungan dengan adiknya," ujar IR (40), ibu RK, ketika dihubungi wartawan, Sabtu (12/10/2013).
IR mengatakan, sejak awal ia sudah tidak setuju dengan hubungan asmara anaknya dengan AL. IR menganggap AL sering berbuat kasar kepada anaknya. Menurut IR, berdasarkan cerita teman-teman RK, anaknya dan AL seringkali bertengkar. Hal ini sempat dibantah oleh Fuad, kakak AL. Menurut Fuad, keluarga RK seringkali berbicara berubah-ubah.
IR mengetahui perkenalan RK dan AL bermula dari Facebook pada Februari 2013. Menurut IR, saat berkenalan dengan AL, anaknya sudah berstatus asisten dosen di perguruan tinggi tempat keduanya menempuh studi di Kemanggisan, Jakarta Barat. Menurut IR, anaknya juga sering membantu nilai AL yang masih berstatus mahasiswi.
Dalam waktu 3 bulan, kata IR, RK memutuskan tinggal bersama dengan AL setelah keduanya menikah siri. Selama 6 bulan terakhir atau setelah memutuskan tinggal bersama AL, RK jarang pulang ke rumah ibunya. Perihal pernikahan siri itu juga dibantah oleh kakak korban.
Saat ini RK kini menjadi buron Polsek Metro Palmerah, karena perbuatannya menyiram air keras ke wajah AL. Adapun AL kini dirawat di Rumah Sakit Royal Taruma, Jakarta Barat, karena mengalami luka di wajah dan tubuhnya. Riki dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat.
Editor : Laksono Hari Wiwoho